25 Juni 2018

Tips Menaikkan Berat Badan Anak




Siapa sih yang nggak senang melihat anak kecil dengan pipi tembem dan badan gemuk cubitable bak roti sobek? Hehehe...

Saya ingat, dulu zaman anak pertama saya itu berat badan menjadi fokus para ibu baru termasuk saya. Apalagi kalau anak seumuran tapi berat badannya beda jauh. Yang satu cungkring yang satu endud menggemaskan. Bisa stress itu ibu baru mencari cara bagaimana menaikkan berat badan anaknya. Huhu pukpuk newmom...


Beda zaman dengan anak kedua ini, rasanya berat badan itu sudah bukan sesuatu yang ditakuti lagi. Yang pasti, berat badan itu hanya salah satu tolok ukur pertumbuhan anak, jadi bukan segalanya. Masih banyak faktor lain yang perlu diperhatikan.

Nah, kali ini saya ingin berbagi tips menaikkan berat badan anak. Sudah sejak zaman MPASI anak pertama sih sebetulnya tips ini dikasih tahu oleh dokter anak yang saya kunjungi (dokter Tiwi). Tapi, entah mengapa kok baru sekarang saya benar-benar merasakan buktinya. Mungkin memang harus istiqomah ya, jadi nggak ada kata malas memasak. 


Saya ringkaskan dari beberapa dokter anak yang memberi saran untuk saya terkait menu dan jadwal untuk pemberian makan agar berat badan anak bertambah ya. Kebetulan dokter yang memberi saran agar berat badan anak bisa mengejar ketertinggalan adalah dokter Novi, BWCC. Terima kasih banyak ya dok! In sya Alloh akan terus dipraktekkan.

Awalnya saya hanya konsultasi saja mengenai perkembangan dan pertumbuhan Hanum, yang waktu itu usia setahun dan berat badannya belum ada tiga kali berat badan saat lahir. Alhamdulillah dokter Novi menjelaskan dengan sabar untuk bisa mengejar ketertinggalan berat badan Hanum. Seharusnya sih saya kembali seminggu setelah hari konsultasi itu, tapi sampai sekarang belum jadi ke sana. 

Beliau menjelaskan kalau saya dan Hanum harus punya jadwal yang saya bilang itu sangat saklek. Misalnya begini jadwal makannya hanum:

05.00 terakhir ASI (menyusu langsung)
07.30 makan pagi
10.00 ASIP/ susu tambahan
12.00 makan siang
14.00 ASIP/ susu tambahan
16.00 camilan
18.00 makan sore

Sisanya, menyusu langsung karena saya sudah di rumah. Diantara jadwal tersebut, nggak boleh diberi camilan apapun. Jadi hanya boleh air putih saja, nggak boleh dicekoki makanan ibu/pendamping saat ibu makan. Hmmm...

Beliau menanyakan ada kesulitan apa kira-kira dengan jadwal seperti itu. Dicoba dulu selama seminggu dan bila belum ada perubahan signifikan, maka beliau akan memikirkan lagi cara untuk menaikkan berat badan hanum. Ya Alloh baik banget dokternya.

Untuk menu makanan agar berat badan naik, beliau juga menjelaskan dan memberi contoh detail.
Jadi, untuk hanum yang usianya setahun, ASIP yang diminum untuk sekali minum seharusnya 150ml. Yang mana saat ini hanum maksimal minunm hanya 90-100ml saja. Saya juga nggak tahu, nggak pernah lebih, apa karena hanum nggak ngedot ya? Kalau Rizma dulu bisa sampai 120ml, memang pakai dot sih. Saya nggak tahu ini ngaruh apa enggak.

Menu makan utama itu nasi putihnya diganti dengan nasi goreng, atau nasi uduk, atau nasi kuning. Pokoknya nggak boleh nasi putih tanpa lemak. Jadi, kalau bisa ditambah lemak berupa minyak sayur (dengan nasi goreng) atau santan (dengan nasi uduk atau nasi kuning). Daaan.... yang enak! Biar anak/bayinya lahap makan. Kalau pun menunya nasi putih, maka lauknya harus berlemak seperti opor ayam, gulai ikan, dan sebagainya.

Selanjutnya, jumlah proteinnya harus diperbanyak atau double protein. Misalnya ikan kembung, bila menggunakan ikan fillet, diharapkan bisa habis tiga ikan sekali makan. Ya Alloh yang ini saya belum bisa lho. Jadi, saya hanya bisa praktek untuk nasinya aja. Kalau sayur gimana? dua lembar sayur bayam, cukup kata dokter Novi. Hahaha... Apa kabar yang selama ini kebanyakan sayur karena takut sembelit? Yang ternyata kata dokter Ivena itu sembelit penyebabnya karena kurang air putih. Dokter ivena juga membantu saya perihal MPASI hanum. Oh, iya, satu lagi dokter yang memberi saran pada saya untuk menaikkan berat badan anak-anak; Dokter Ratih. Kata beliau, hanum ngemilnya telur, atau ikan, atau daging. Saya memang curhat kalau nggak bisa memberikan ikan atau daging banyak-banyak saat makan. Lha anaknya nggak mau, gimana? Ternyata tipsnya dijadikan camilan. Ok noted.


Untuk camilan, sebaiknya hindari biskuit dan kawan-kawan yang minim kalori. Diganti dengan kue berat seperti nagasari, lemper, risoles, arem-arem, kue lapis, yang kalau menurut saya ini jajanan pasar enak yang memang mengenyangkan.

Saya sih sempat bertanya perlu nggak penambahan suplemen penaik berat badan anak? Ternyata belum perlu, selama menu dan jadwal makan dijalani dengan baik dan ada kenaikan berat badan.

Hasilnya bagaimana? Alhamdulillah dalam dua minggu berat badan anak-anak naik signifikan. Saya sangat senang dan segera memberi kabar ini kepada adik saya yang anaknya juga masih kurang berat badannya.

Kalau ibu yang kreatif dan rajin, menu nasinya bisa dikreasikan dengan nasi wortel (nasi uduk dengan warna oranye dari wortel saring), nasi brokoli (nasi uduk dengan warna hijau dari brokoli saring) dan sebagainya agar anak tertarik untuk makan.



Yang pasti, gizinya harus seimbang dan ditambah untuk penambah berat badan berupa lemak. Kalau EVOO kan nggak enak ya rasanya, mungkin pas MPASI sih bisa diberikan karena anak masih dalam masa pengenalan rasa. Kalau sudah setahun ke atas? Apalagi lima tahun seperti Rizma? Wassalam deh itu minyak zaitun, yang ada malah nggak doyan makan. Tapi kalau nasi uduk dan nasi goreng? Sekali memasak bisa untuk kakak adik deh. Dan alhamdulillah dua-duanya suka.

Enaaaaaak...... kalau kata Rizma.

Nah, sekian dulu ya tips menaikkan berat badan anak dari saya. Saya sharing karena merasakan manfaat dari penerapan menu ini. Kalau untuk jadwal bisa disesuaikan dengan kondisi ya. Semoga bermanfaat dan semoga yang sedang ada masalah ketertinggalan berat badan anaknya, bisa segera mengejar dan ada di zona aman.

Salam semangat memasak menu anak ^^


post signature

1 komentar:

  1. Thank you, Bunda Elok atas postingan ini. *sungkem* :') Sangat bermanfaat sekali buat saya new mom yang tiap bulan waswas liat timbangan BB anak karena makannya masih belum stabil. Cuss, setelah ini coba saya praktekan. :))

    BalasHapus

Terima kasih telah membaca postingan ini :) silakan tinggalkan jejak di sini. Maaf ya, spam&backlink otomatis terhapus.