20 September 2018

"Tadi Ngapain Aja di Sekolah?"


Kalimat ini mungkin banyak sekali digunakan oleh orang tua ketika anaknya pulang dari sekolah, termasuk saya -kadang-kadang-. Harapan besar orang tua agar anak dengan senang hati bercerita kegiatannya selama di sekolah.

Apakah harapan itu terwujud? Ternyata nggak selalu. 

Anak pulang sekolah biasanya dalam kondisi lelah. Sedangkan orang tua dalam kondisi penasaran ingin mendengar cerita dari si anak. Di sinilah kadang terjadi perbedaan kebutuhan.

Menurut saya, orang tua seharusnya lebih kreatif dalam menciptakan suasana yang kondusif agar anak merasa nyaman saat bercerita. Kita saja, orang dewasa, kalau sedang lelah, rasanya malas sekali untuk bercerita panjang lebar tentang kejadian yang dialami dari pagi hingga sore selama di tempat kerja. Apalagi anak-anak?

Lalu bagaimana caranya agar anak dapat dengan mudah bercerita kepada kita?

Izinkan saya berbagi cerita tentang saya dan Rizma, anak sulung saya.




Kemarin petang, sepulang kerja, saya dihadiahi pita berwarna pink yang terbuat dari kertas origami. Papahnya dihadiahi pita berwarna hijau, dan adiknya dihadiahi pita berwarna kuning. Pita-pita ini buatan Rizma. Terima kasih Rizma! Bagus sekali pitanya.

Berawal dari pemberian pita kertas itu, saya mencoba mengobservasi agar mudah mendapatkan cerita seru selama di sekolah.

"Wah, sepertinya Rizma hari ini senang sekali," kata saya menebak perasaannya.

"Iya bun. Tadi aku di sekolah membuat pita." Jawab Rizma dengan riang.

"Ooo... jadi tadi di sekolah Rizma membuat pita keren seperti ini ya?" Saya pun mencoba menebak lebih detail kegiatan di hari itu.

"Iya, bun." Rizma kembali menjawab.

Dari percakapan singkat itu, Rizma berlanjut cerita kegiatannya selama di sekolah tanpa saya tanya.
"Saya menyimpulkan, dari pada bertanya seperti penyidik yang sedang menginterogasi -hari ini ngapain di sekolah?- lebih baik tebak perasaan anak, agar ia merasa dimengerti."
Kondisi saat saya bertemu Rizma tentunya bukan sesaat setelah is pulang sekolah. Jadi, kelelahan Rizma sudah berangsur hilang dari siang hingga petang itu.

Dulu saat cuti hamil, saya yang menjemput Rizma. Biasanya yang saya lakukan adalah memeluk dan melihat kondisinya saat selesai berkegiatan di sekolah: apakah terlihat lelah, lapar, mengantuk, atau malah berbinar-binar matanya karena nggak sabar ingin bercerita kepada saya.

Kalau matanya terlihat berbinar-binar, saya bisa langsung melakukan tebak perasaan ini untuk memancing ia bercerita. Namun kalau terlihat sebaliknya, biasanya saya perlihatkan sesuatu untuk membuka obrolan ringan dengannya. 

Kadang saya membawa camilan yang bisa mengurangi rasa laparnya sebelum ia siap bercerita. Kalau pun setelah makan camilan masih belum mau cerita, saya tunda hingga sampai rumah. Selain camilan, saya juga pernah membawa hasil karya/DIY -Do It Yourself- mainan yang saya buat saat ia berada di sekolah. 

"Rizma tahu nggak bunda bawa apa?"
"Rizma, kayaknya Rizma laper deh, bunda bawa sesuatu lho..."

Biasanya kalimat ini yang terlontar dari mulut saya untuk membuka obrolan ringan saat Rizma terlihat lapar atau lelah sepulang sekolah.

Biasanya saya yang memulai cerita sedari pulang dari mengantar dia saya melakukan apa saja, dan alhamdulillah dengan sendirinya Rizma bergantian cerita.
"Saya menyimpulkan, mungkin cerita kita bisa memancing anak untuk lebih semangat bercerita karena merasa ada komunikasi dua arah, bukan hanya orang tua yang bertanya dan anak yang menjawab."
Kembali pada kejadian kemarin petang

Saya kemudian teringat pada sekotak bekal siomay tadi pagi. Lalu saya mencoba menebak kalau bekalnya habis.

"Eh iya Rizma, siomaynya tadi pasti habis ya?" tanya saya.

"Habis bun, malahan kurang. Soalnya teman-teman aku pada minta sih."

"Waaaah, alhamdulillah. Berati enak dong siomaynya."

"Enaaaak banget! Besok bawa enam ya bun. Tadi kan cuma bawa empat, jadi dua teman aku minta, Rizma cuma kegaian dua deh." 

"Oke, Terima kasih ya Rizma hari ini sudah hebat karena berbagi bekal dengan teman."

Kami pun saling berpelukan dan Rizma masih berlanjut cerita nama teman-temannya yang ikut makan bekal siomay hari itu.

Sebelum-sebelumnya, saya biasanya bertanya borongan. Selain bertanya kegiatan, saya juga langsung bertanya bekalnya habis atau nggak. Dan Rizma biasanya menjawab "Nggak tahu".

Dengan menebak-nebak seperti yang saya lakukan ini, ternyata lebih efektif. Karena, kalau tebakannya salah, pasti Rizma akan bercerita yang betul bagaimana. Kalau tebakannya betul, Rizma juga merasa "ih kok bunda tahu aja" sehingga cerita pun berlanjut lebih detail.

Setelah selesai bercerita tentang kegiatan di sekolah, selanjutnya Rizma membuatkan kami bertiga -saya, papah dan adiknya- pesawat hijau dari kertas origami. Pesawatnya bisa terbang hanya dengan satu jari. Terima kasih Rizma pesawat kerennya!


Hari sebelumnya, saya memancing Rizma bercerita dengan sepucuk surat cinta. Jadi, seperti yang saya ceritakan pada postingan sebelumnya, Rizma baru saja bisa membaca. Saya punya tugas untuk terus mengasah kemampuan membacanya agar nggak berhenti di tahap yang sekarang saja. Pun juga dalam rangka membuat kegiatan belajar membaca menjadi menyenangkan.

Baca Juga: Tahapan Belajar Membaca untuk Anak Usia Dini

Saya menuliskan sepucuk surat cinta yang isinya kalimat sederhana tentang Rizma, tepatnya tentang kegiatan hari itu. Saya tulis dalam surat: 
"Hari ini hari senin, aku pergi ke sekolah dengan bunda dan papah naik motor. Terima kasih papah dan bunda sudah antar aku. Di sekolah, aku naik kuda. Kudanya warna ... Aku senang sekali. Ini gambar kudanya."
Saya tahu hari itu Rizma naik kuda di sekolah karena melihat jadwal di kalender akademik. Dengan begitu, Rizma pun terpancing untuk cerita lebih detail tentang warna kuda, tentang bagaimana serunya naik kuda, dan seterusnya.
"Dari sepucuk surat cinta ini, saya menyimpulkan bahwa, dengan menebak serunya kegiatan di sekolah, anak akan terpancing untuk bercerita lebih detail dari tebakan kita." 


Nah, tiga kesimpulan inilah yang saya lakukan untuk memancing Rizma bercerita. Tapi saya nggak menjamin cara yang saya lakukan ini bisa berefek sama bila dilakukan kepada anak lain.

Poin komunikasi produktif yang saya terapkan adalah:

  • Mengganti Kalimat Interogasi dengan Pernyataan Observasi
  • Mengganti Kalimat yang Mengalihkan Perasaan dengan Kalimat yang Menunjukkan Empati
  • Jelas dalam memberikan Pujian/Kritikan

_____________________________________

Disusun pada hari Kamis, 20 September 2018, 10 Muharram 1440 H.

#hari15
#gamelevel1
#tantangan17 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca postingan ini :) silakan tinggalkan jejak di sini. Maaf ya, spam&backlink otomatis terhapus.