Tampilkan postingan dengan label home education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label home education. Tampilkan semua postingan

24 Juni 2022

Belajar Menulis Gembira


Rizma suka sekali menggambar, membaca, dan membuat cerita (komik) sederhana. Saya pun

24 Mei 2022

Motivasi Internal

Fiuh...

Rasanya capek memang kalau segala kegiatan anak ternyata nggak berasal dari motivasi di dalam diri mereka. Orang tua akan lelah menyuruh-nyuruh, dan ternyata si anak melakukan kegiatannya tanpa sadar apa pentingnya kegiatan itu untuknya. begitu seterusnya, siklus akan berulang kalau orang tua nggak mau belajar bagaimana memperbaiki kondisi tersebut.

Alhamdulillah hari ini saya membuka email dari rumah inspirasi. Cocok sekali kontennya, saya tulis disini agar mudah saya pelajari kembali ketika saya butuh reminder  ^^

Membangun motivasi internal
oleh Pak Aar dan Mba Lala

Proses membangun motivasi internal itu membutuhkan waktu yang panjang, rumit, dan berbeda-beda kondisinya pada setiap anak. Perlu tahapan proses dan sistem yang tepat untuk membangunnya.

 

Termasuk yang mempengaruhi tumbuhnya motivasi internal adalah ekspektasi orangtua yang wajar terhadap anak.

  • apakah anak merasa memiliki prosesnya dan tahu bahwa kegiatan itu untuk kepentingannya?
  • siapa yang lebih berkepentingan atas kegiatan itu: anak atau orangtua?
  • jika anak tak melakukan sebuah hal, siapa yang rugi: anak atau orangtua?

 

Jika ada kegiatan baik yang menurut kita penting untuk kepentingan anak; pastikan kita melatih dan membangun sistem di mana yang beruntung jika melakukan adalah anak, yang rugi jika tak melakukan adalah anak; bukan kita (orangtua).

 

Sebagai contoh, makan sendiri. Itu untuk kepentingan siapa? Mengapa anak harus dipaksa makan sendiri? Mengapa orangtua terpancing emosinya jika anak tidak makan sendiri? Jika anak tak mau makan sendiri, yang rugi siapa?

 

Untuk anak terampil makan sendiri, pastikan ada beberapa kondisi yang sesuai:

  • anak lapar
  • tidak ada susu & snack sebelum makan
  • anak makan tidak sambil main/menonton
  • berikan durasi waktu. Selesai atau tidak selesai, ambil piringnya. Alternatif pendekatan lain, biarkan anak menghabiskan makanan sampai berapa lama pun. Selama makanan belum habis, dia tak boleh meninggalkan meja dan melakukan kegiatan lain.
  • jika anak tak mau makan atau tidak habis, tidak ada snack setelahnya. Makanan baru akan ada lagi saat makan setelahnya

Itu contoh sistem yang bisa dibangun untuk membangun kebiasaan makan sendiri dan membangun

 

Memberikan reward

Memberikan reward efektif untuk mengarahkan anak pada sebuah tindakan tertentu. Penggunaan reward boleh, tapi perlu dijagar agar tetap efektif.

 

Reward akan efektif jika:

  • tidak menciptakan ketergantungan
  • paduan antara terpola/rutin & acak
  • dilakukan hanya sesekali atau dalam durasi tertentu (bukan seterusnya). Dalam jangka panjang yang dibangun adalah motivasi internal

 

Jadi, orang tua bisa memberikan reward, tapi pastikan hanya 1-2 kegiatan tertentu yang dianggap sangat penting.

22 April 2022

Rapor bagi Klapamily


Ketika itu saya membaca postingan Bu Dini (D.K.Wardhani) tentang rapor bagi beliau dalam

14 Oktober 2021

Belajar dari Safar



Alhamdulillah, semakin sering kami melakukan safar (baca: perjalanan ke kampung halaman) membuat kami semakin banyak belajar. Awalnya saya dulu membayangkan kerepotan pulang kampung dengan mobil pribadi ketika anak-anak masih kecil. Ternyata setelah dicoba sekali, ketagihan!

30 Agustus 2021

Emosi Netral, Belajar Mudah



Bismillahirrohmanirrohim...
Hari ini benar-benar membuktikan bahwa logika dan emosi itu seperti timbangan, seperti yang

22 Agustus 2021

Belajar Bahasa Inggris di Reading Eggs



Mau review sedikit tentang pembelajaran Bahasa Inggris di Reading Eggs. Untuk yang belum tahu, Reading Eggs adalah platform belajar bahasa Inggris untuk anak usia 4-7 tahun (kalau yang terbiasa berbahasa Inggris). Kalau yang bahasa ibunya bahasa Indonesia, masih bisa digunakan untuk usia diatas 7 tahun.

23 Juli 2021

Perjalanan Menuju Pembelajar Mandiri



Bismillah...
Alhamdulillah.. Bulan Juli ini adalah bulan baru untuk kami. Karena mbak Rizma dalam proses

03 Maret 2020

Merancang Visi Pendidikan Keluarga

Merancang Visi Pendidikan Keluarga
as
Oleh Pak Aar Sumardiono
Rumah Inspirasi

Visi Pendidikan memiliki peran yang krusial dalam proses homeschooling. Visi Pendidikan akan memberikan arah ke mana proses homeschooling akan kita jalani. Visi Pendidikan bisa menjadi peta atau petunjuk bagaimana homeschooling akan dijalani.
Apa itu Visi Pendidikan Keluarga?
Visi Pendidikan Keluarga adalah gambaran tentang model pendidikan yang akan dijalani anak-anak. Visi pendidikan memuat kapasitas anak yang dituju, filsafat pendidikan yang dipilih, pandangan kita tentang cara belajar anak, dan hal-hal lain yang dianggap penting.
Visi Pendidikan Keluarga gagasannya mirip membuat “Educational Philosophy” yang biasa dibuat oleh keluarga homeschool (mereka lebih suka menyebut home-education) di Inggris. Proses pembuatan Educational Philosophy ini tidak diwajibkan, tapi disarankan oleh para senior HE di Inggris.
Nah, di Indonesia kita juga tidak diwajibkan untuk membuat Visi Pendidikan Keluarga. Tapi, jika kita bisa membuat Visi Pendidikan Keluarga, itu akan sangat membantu dalam proses homeschooling. Bahkan seandainya anak kita tidak menjalani HS, keberadaan Visi Pendidikan Keluarga bermanfaat untuk memandu keluarga memilih sekolah dan kegiatan-kegiatan yang sesuai.
Mengapa kita perlu membuat Visi Pendidikan Keluarga?
  • Homeschooling tak hanya mengikuti dan menjalani sebuah kurikulum tertentu saja. Homeschooling berangkat dari kebutuhan anak dan visi tentang pendidikan yang ideal menurut keluarga.
  • Visi Pendidikan Keluarga akan membantu kita memilih jenis kegiatan yang sesuai. Sebab, saat ini banyak sekali jenis kegiatan anak sementara sumber daya dan waktu kita terbatas. Keterbatasan ini membuat kita harus memilih. Dan Visi Pendidikan Keluarga bisa menjadi alat bantu untuk memilih kegiatan anak-anak.

  • Dengan memiliki Visi Pendidikan Keluarga, kita bisa merancang proses pendidikan yang sesuai untuk anak-anak kita.

Bagaimana bentuk Visi Pendidikan Keluarga?
Tidak ada sebuah bentuk yang standar tentang bagaimana Visi Pendidikan Keluarga seharusnya dibuat.
"It’s a guiding principle rather than a set of strict guidelines and a genuine statement of educational beliefs which, of course, might change as the child’s education develops in means and manner – from structured to unstructured for instance.” 
-Dr Helen Lees (Newman University in Birmingham)-
Visi Pendidikan Keluarga bukanlah petunjuk praktis yang diikuti step-by-step, tetapi lebih berupa prinsip-prinsip yang bermanfaat untuk memandu kita dalam proses menjalani homeschooling.
Kita jarang membicarakan dengan pasangan tentang Visi Pendidikan Keluarga. Suami-isteri jarang mendiskusikan tentang bagaimana pendidikan yang ideal menurut sudut pandang masing-masing.
Oleh karena itu, merancang Visi Pendidikan Keluarga adalah kesempatan untuk mendiskusikan pendidikan di keluarga kita. Mari kita manfaatkan!
Aspek Visi Pendidikan Keluarga
Untuk membantu proses perancangan Visi Pendidikan Keluarga, kami memberikan memberikan beberapa pertanyaan dasar untuk membantu Anda.
  1. Kapasitas Personal Anak
  2. Kapasitas Sosial
  3. Kapasitas Profesional
  4. Model Pendidikan Ideal

Tiga hal yang pertama berkaitan dengan “bekal ideal” yang perlu dimiliki anak saat dewasa. Bagian terakhir berkaitan dengan cara Anda memberikan bekal ideal tersebut.
Bagaimana cara membuat Visi Pendidikan Keluarga?
Idealnya adalah hasil kesepakatan antara suami-isteri. Idealnya dilakukan sebelum memulai homeschooling atau pada saat anak-anak belum lahir.
Kenyataannya, tidak banyak pasangan yang mendiskusikan tentang mimpi bersama sebagai keluarga dan visi pendidikan keluarga. Kita sering berinteraksi “tanpa kata” dengan pasangan dan mencoba mengira-ngira apa yang ada dalam pikiran pasangan kita.
Jika Anda ingin homeschooling, ini saatnya mulai membicarakan tentang Visi Pendidikan Keluarga yang disepakati bersama.

Cara membuat Visi Pendidikan Keluarga

Ada 3 tahap penting dalam proses merancang Visi Pendidikan Keluarga.
Pertama adalah membuat Visi Pendidikan versi masing-masing (versi Ibu & versi Ayah).
Kedua adalah memaparkan Visi Pendidikan kepada pasangan. Setiap orang bercerita dan pasangan mendengarkan serta mengajukan pertanyaan untuk memperjelas. Proses ini dilakukan bergantian.
Ketiga adalah mendiskusikan dan menyepakati hal-hal penting yang menjadi Visi Bersama.
Tips:
  • Kondisi ideal tejadi ketika pasangan suami isteri memiliki kesadaran yang sama dan bisa berkomunikasi dengan baik. Proses diskusi tentang visi pendidikan bisa berlangsung secara produktif.
  • Jika kondisi seperti itu tak Anda miliki, Anda tetap bisa membuat Visi Pendidikan Keluarga. Mulai dengan proses Anda sendiri. Setelah Anda selesai mengisi, ceritakan kepada pasangan Anda dan minta komentar/masukannya. Berdasarkan komentar/masukan yang diberikan, Anda melakukan revisi. Itulah hasil Visi Pendidikan Keluarga Anda saat ini.
  • Visi Pendidikan Keluarga adalah prinsip yang memandu. Visi ini bisa berubah seiring perkembangan wawasan/pengetahuan/kesadaran Anda. Visi ini juga bisa berubah seiring perubahan kondisi (anak, lingkungan keluarga, lingkungan eksternal). Jadi, yang Anda miliki saat ini adalah Visi Pendidikan Keluarga versi 1.0
  • Jika Anda merasa perlu mengubah, menambahkan, mengurangi, mempertajam Visi Pendidikan Keluarga, lakukanlah. Anda akan memiliki versi 2.0 dan seterusnya.
  • Dengan memiliki Visi Pendidikan Keluarga, Anda bisa menilai kebutuhan model pendidikan keluarga Anda. Berdasarkan Visi Pendidikan Keluarga yang Anda buat, Anda bisa menilai apakah homeschooling adalah alat yang tepat untuk meraih Visi Pendidikan Keluarga tersebut. Jika memang tidak tepat, berarti Anda perlu mencari model lain yang lebih sesuai untuk Anda.
Beberapa catatan saya setelah melihat pertanyaan di grup Whatsapp dan Forum Web:
  • Proses membuat rancangan “Visi Pendidikan Keluarga” ini adalah hal yang penting dalam proses homeschooling supaya Anda tahu ke arah mana proses homeschooling akan dijalankan?
  • Idealnya proses membuat Visi Pendidikan Keluarga dilakukan bersama pasangan. Tetapi jika Anda single parent atau kondisi tidak memungkinkan, jangan menghalangi Anda untuk membuatnya. Mulai saja dan jadikan itu sebagai pegangan awal.
  • Kunci membuat Visi Pendidikan Keluarga adalah membuatnya cukup umum, ideal, tetapi pada saat bersamaan bisa dieksekusi oleh Anda. Jangan terlalu teknis, misalnya Visi Pendidikan Keluarga Anda adalah mengikuti Belajar menurut Kurikulum 2013. Visi pendidikan perlu melampaui hal-hal teknis yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Kalau nanti kurikulumnya ganti bagaimana? 
Sebagai gantinya, Anda bisa menuliskan: anak memiliki ijazah untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Dengan menuliskan ijazah, berarti proses HS anak-anak nanti akan mengintegrasikan proses akademis. Caranya? Tergantung kebijakan pemerintah yang sedang berlaku.
  •  Visi Pendidikan Keluarga juga bukan hanya sekedar mimpi yang tak masuk akal. Sebagai contoh, visi Anda “anak menguasai 20 bahasa”. Visi ini bisa masuk akal ketika Anda memiliki gambaran tentang langkah dan cara mencapainya. Tetapi visi ini hanya menjadi tak masuk akal jika Anda sendiri tak tahu cara membimbing anak untuk menuju ke sana.
  • Untuk membuat visi pendidikan ideal sekaligus operasional, kami memberikan panduan untuk memudahkan Anda. Panduan itu adalah Kapasitas Personal, Kapasitas Sosial, dan Kapasitas Profesional.
  • Jika Anda baru memulai homeschooling dan belum memiliki bayangan, tidak apa-apa. Hal itu sangat wajar karena kita memang tidak dibiasakan memiliki Visi pribadi. Selama ini, kita terbiasa hanya menjalani Visi dan rencana yang dibuat orang lain. Yang penting Anda tahu bahwa homeschooling bukan hanya mendapatkan ijazah dan mengikuti kurikulum saja. Anda memiliki hak dan kesempatan untuk membuat rancangan sendiri.
  • Jika Anda tak ingin memanfaatkan hak untuk membuat rancangan sendiri, Anda bisa memulai dengan mengikuti proses Ujian Paket yang disediakan oleh mendapatkan ijazah setara sekolah. Berikut ini contoh Visi Pendidikan yang banyak dimiliki oleh keluarga HS berdasarkan pengamatan saya dan bisa digunakan sebagai titik awal proses homeschooling:
    • mendapatkan ijazah paket
    • memberikan dasar agama yang baik
    • mengembangkan minat anak
  • Seiring waktu dan semakin meningkat wawasan Anda mengenai homeschooling, Anda bisa merevisi Visi Pendidikan itu sehingga lebih sesuai.


29 Februari 2020

Mengelola Distraksi

Tulisan ini merupakan resume dari kulwap pekanan dalam kelas Jurnal HS 2020 yang diadakan oleh Rumah Imspirasi. Saya ikat diblog karena saya tahu sifat pesan whatssap itu lebih sulit dipelajari ulang bila sudah tertumpuk chat yang lain.

Jadi, sambil sharing juga, saya pindahkan kesini.

Materi dari Bu Lala Rumah Inspirasi

"Kulwap Journaling: "MENGELOLA DISTRAKSI"

Selamat malam teman-teman,

Bagaimana proses menjurnalnya? Semoga masih terus semangat.

Tidak terasa kita sudah memasuki minggu terakhir bulan Februari. Dua bulan berlalu dengan cepat, apalagi kalau tidak dicatat. Tapi kalau dicatat pasti mulai terasa nikmat karena buku jurnal mulai terisi dengan “harta berharga” yaitu cerita, rasa syukur & aneka rencana yana semoga berhasil dilaksanakan dalam beberapa minggu terakhir ini.

Kita beruntung hidup di era kemudahan informasi seperti ini. Internet telah membuat kita terhubung, kita bisa belajar bersama & saling menguatkan dalam proses membuat jurnal ini.

Tapi internet & teknologi juga merupakan sumber distraksi yang besar bagi kita yang mungkin membuat kita sulit fokus menyelesaikan hal-hal yang seharusnya kita selesaikan.

Seperti journaling

Kadang kita merasa tidak punya waktu untuk menulis jurnal, tapi ternyata kita punya cukup banyak waktu untuk stalking Instagram atau membaca berita melalui telpon genggam kita.

Konon, para pekerja di Amerika terdistraksi setiap 11 menit dan membutuhkan waktu 25 menit untuk bisa mengembalikan fokus yang tergeser tadi (https://www.ics.uci.edu/~gmark/chi08-mark.pdf).

Semakin kompleks pekerjaan yang perlu dilakukan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa kembali fokus.

JENIS DISTRAKSI

Ada 2 jenis distraksi: dari dalam dan dari luar. Kita sering menyalahkan distraksi dari luar, tapi sesungguhnya gangguan terbanyak dilakukan oleh diri kita sendiri, yang seringkali tidak kita sadari.

Distraksi dari dalam

Distraksi ini terjadi di dalam kepala kita. Bentuknya seperti mental block yang menahan kita untuk tetap fokus alias ketidakmampuan kita untuk memilih.

Ketika pilihan itu melimpah di hadapan kita, kita justru sulit untuk menentukan mana yang harus kita lakukan. Mau cuci piring dulu, beres-beres rumah, mendengarkan podcast atau mencari materi untuk anak?

Mengapa di pesawat terbang lebih mudah untuk menyelesaikan membaca buku atau menonton film? Karena pilihan kita terbatas. Secara fisik pun kita terbatas kondisinya.

Otak kita cenderung memprioritaskan pilihan kita berdasarkan pada kebutuhan yang di depan mata dibandingkan kebutuhan yang seharusnya dilakukan.

Distraksi luar

Distraksit luar itu contohnya pesan Whatsapp atau tamu yang mendadak datang ke rumah. Distraksi luar ini seringkali kita anggap sebagai sumber utama masalah, tapi distraksi dari luar ini pun sebenarnya tetap bisa kita minimalkan.

Kita semua tak lepas dari distraksi. Saya sendiri ketika menuliskan materi ini terdistraksi beberapa kali. Hehehe..

Untuk itu, malam ini saya berbagi 3 latihan untuk membantu Anda menaklukkan aneka gangguan tersebut.

Langkah 1: Kurangi pilihan Anda

Sebagaimana yang disampaikan sebelumnya, distraksi internal terjadi karena kita punya banyak pilihan. Maka cara pertama adalah mengurangi pilihan yang ada.

Misal, pada saat kita ingin menulis jurnal maka jauhkan telpon genggam, matikan TV bahkan kotak cemilan yang mungkin ada di sekitar meja.

Aturan 20 Detik

Seorang psikolog -Shawn Achor- percaya bahwa 20 detik memberikan banyak perbedaan dalam perubahan kebiasaan. Misal, jika Anda menjauhkan HP dalam jangkauan 20 detik, maka kemungkinan Anda mengeceknya akan semakin sedikit.

Atau matikan notifikasi di HP sehingga Anda butuh waktu lebih lama untuk mengecek pesan yang sampai. Keluar (log out) dari akun sosial media Anda sehingga Anda perlu waktu untuk masuk (login) dulu sebelum bisa mengecek media sosial. Karena sesungguhnya notifikasi tidak selamanya merupakan hal yang penting. Media sosial tidak membantu kita menyelesaikan pekerjaan yang saat ini harus kita lakukan.

Latihan langkah 1

Identifikasikan pilihan yang Anda punya di sekitar Anda, dan pikirkan bagaimana Anda menghilangkannya ketika Anda membutuhkan waktu untuk fokus.

GAMBAR

Langkah 2: Memasang Waktu Berhenti

Di dunia penuh distraksi ini, informasi datang tiada henti. Selesai nonton satu video Youtube, kita langsung disajikan video lainnya dan seterusnya. Untuk itu kita perlu bisa memasang tanda berhenti bagi kita sendiri.

Caranya bisa dengan dua hal:

a Berdasarkan waktu

Misal saat kita mau membuka Instagram, kita memasang weker 15 menit di HP atau komputer untuk memastikan tidak akan terlewat waktunya.

Dulu saya ke mana2 pakai timer dapur murah meriah untuk mengatur waktu, karena kalau pakai HP lebih mudah terdistraksi. Tapi sekarang saya pakai jam yang ada timernya jadi lebih mudah lagi prosesnya.

b. Berdasarkan kemajuan

Misal saat kita menonton video di Youtube, kita membatasi diri untuk hanya menonton 2 video saja.

Latihan langkah 2

Tuliskan distraksi yang biasa terjadi dan apa yang menjadi tanda berhenti bagi distraksi tersebut.

GAMBAR

Langkah 3: Atur Suasana Fokus

Sebagai manusia, kita terdistraksi oleh indra kita:

~ Suara: orang ngobrol, suara binatang, abang bakso lewat, musik, anak merengek dll

~ Sentuh: tempat duduk yang kurang myaman, baju yang terlalu ketat, meja kerja yang kotor

~ Pandangan:  layar, suasana ruang tempat fokus, pemandangan yang terlihat oleh Anda

~ Bau: bau kopi, orang tiba-tiba kentut atau. bau masakan tetangga

~ Rasa: sisa rasa di mulut, apa yang sedang kita makan atau kunyah

Jika Anda ingin fokus, pilihlah tempat di mana indra Anda tidak mengganggu perhatian. Kemudian tuliskan tempat yang kira-kira aman bagi indra Anda. Misal: di kamar saat malam hari setelah anak-anak tertidur, atau di beranda rumah ketika hari masih pagi dan seisi rumah terlelap.

Sebagai ibu, kadang banyak hal tidak ideal.

Untuk itu kita perlu menambahkan elemen kesabaran dan kelenturan serta kemampuan untuk berdamai dengan ketidak sempurnaan.

Saya sendiri berusaha untuk bangun jauh lebih pagi sebelum orang di rumah bangun untuk menjurnal. Karena itu waktu yang paling cocok buat saya.

Waktu malam buat saya masih sering banyak distraksi. Keluarga kami selalu melakukan keruntelan di malam hari dan kalau sedang seru kadang sampai terkantuk-kantuk sehingga sudah tidak sempat menjurnal.

Waktu anak-anak kecil, mereka setiap malam minta dibacakan buku cerita dan saya sering ketiduran di kamar mereka sehingga sulit untuk menjurnal kala malam.

Sebagai ibu, saya harus bersedia berjalan extra mile untuk mencapai apa yang saya inginkan. Dan saya rasa teman-teman pun perlu melakukan hal ini (baca: menghalau distraksi) kalau memang mau berhasil menjurnal.

Awalnya mungkin sulit, tapi begitu kita mendapatkan buah dari proses menjurnal ini, aneka distraksi itu tidak lagi menjadi halangan, dan kita akan lebih cepat mampu kembali fokus.

Karena buah fokus jauh lebih manis daripada buah distraksi.

Semangat terus ya teman-teman!

26 Agustus 2019

Membangkitkan Fitrah Belajar dan Bernalar

source: www.123rf.com

Membangkitkan Fitrah Belajar dan Bernalar
Oleh Ust. Harry Santosa

"Baby born as a Scientist" begitu menurut pakar prof. Gopnick yang selama puluhan tahun bergelut dengan dunia anak. Dia melihat anak punya kecakapan setara seorang filsuf dan berfikir ilmiah layaknya seorang pakar sains.

05 Desember 2018

Kurikulum dan Rekomendasi Buku Metode Montessori


Pertanyaan yang kemudian muncul setelah belajar tentang filosofi Montessori adalah "Bagaimana kurikulum metode Montessori?" 

Apakah kegiatan anak saya ini termasuk Montessori?

Bagaimana memulainya?

28 November 2018

[Review] Jatuh Hati pada Montessori

reviuw buku jatuh hati pada montessori

Buku berjudul "Jatuh Hati Pada Montessori" membuat saya benar-benar jatuh hati pada metode ini. Banyak sekali rasa syukur dan takjub saat membaca halaman demi halaman buku ini karena saya

20 September 2018

"Tadi Ngapain Aja di Sekolah?"


Kalimat ini mungkin banyak sekali digunakan oleh orang tua ketika anaknya pulang dari sekolah, termasuk saya -kadang-kadang-. Harapan besar orang tua agar anak dengan senang hati bercerita kegiatannya selama di sekolah.

Apakah harapan itu terwujud? Ternyata nggak selalu. 

Anak pulang sekolah biasanya dalam kondisi lelah. Sedangkan orang tua dalam kondisi penasaran ingin mendengar cerita dari si anak. Di sinilah kadang terjadi perbedaan kebutuhan.

Menurut saya, orang tua seharusnya lebih kreatif dalam menciptakan suasana yang kondusif agar anak merasa nyaman saat bercerita. Kita saja, orang dewasa, kalau sedang lelah, rasanya malas sekali untuk bercerita panjang lebar tentang kejadian yang dialami dari pagi hingga sore selama di tempat kerja. Apalagi anak-anak?

Lalu bagaimana caranya agar anak dapat dengan mudah bercerita kepada kita?

Izinkan saya berbagi cerita tentang saya dan Rizma, anak sulung saya.


30 Juli 2018

Tahapan Belajar Membaca untuk Anak Usia Dini


Bismillah…
Jumat pagi tadi saya di japri mba fitri, salah satu pengurus Ibu Profesional Tangsel, untuk mengisi Jumat hangat pekan ini.
Sebelum mengiyakan tawaran mba Fitri, saya sempat bingung mau sharing apa untuk jumat hangat nanti. Karena jumat hangat sebelumnya, nggak hanya perkenalan tapi juga ada materi yang dibagikan.
Karena Rizma -Alhamdulillah- baru saja bisa membaca -masih yang sederhana, dan masih terus belajar karena belum lancar-, saya memutuskan untuk sharing tahapan belajar membaca untuk anak usia dini. Sebetulnya

03 April 2018

Home Education Berbasis Fitrah

Membersamai Bangkitnya Fitrah Orangtua




Materi Pokok 1



Apa dan Bagaimana Home Education berbasis Fitrah _(Akhlaq dan Potensi)



SME (Subject Matter Expert): Ust. Harry Santosa & Ibu Septi Peni Wulandani



Bagian 1 


Home Education (Pendidikan berbasis Rumah)


Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education (HE) itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya.


Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orang tua lakukan. Maka syarat pertama “dilarang minder” ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari sang Maha Guru.

22 Februari 2018

Desain Pembelajaran ala Bunda Rizma Hanum

📝 *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR*📝 
(Learning  How to Learn)



Deg!

Dapat tugas untuk menyusun desain pembelajaran. Hmm, apa itu desain pembelajaran? Kalau dalam tebakan katanya sih sepertinya desain yang dirancang oleh seseorang untuk mempelajari ilmu tertentu. Hihihi…

Karena memang ingin tahu pengertian sebenarnya, langkah pertama yang saya lakukan adalah browsing pengertian desain pembelajaran.

28 Desember 2016

Yuk Buat Sendiri "Weekly Schedule" Anak-anak

Spesifikasi judul: "Weekly Schedule" Anak Usia Dini

kurikulum homeschooling


Sebetulnya sudah lama sekali tulisan ini mengendap di draft. Nggak apa deh ya, niatnya sharing. Awalnya saya mencari tahu gimana sih kurikulum dan jadwal anak Homeschooling? Baca-baca dan dapat materi, ternyata intinya fleksibel kok. Apalagi yang menganut "Follow the Child."  Tapi nggak ada salahnya, bila kita sebagai ibu, membuat jadwal mingguan agar kegiatan anak-anak lebih fokus dan memudahkan kita mencari bahan ajar. Duh, udah kaya guru aja. Ya memang, kan ibu itu guru pertama anak-anaknya ^^

19 September 2016

[Ide Bermain: Melatih Konsentrasi] Ayo pegaaang ...


pict ramdom from google
Permainan ini pasti sudah tidak asing lagi bagi siapa pun. Mengikuti instruksi sekaligus melihat dengan mata telanjang apa yang dilakukan instruktur, biasanya membuat para pemain sulit berkonsentrasi. Apalagi bila pemain adalah anak-anak balita!

Nah, bila anak-anak sedang berkumpul dengan sepupu-sepupunya, pasti ramai dan butuh ide bermain yang bisa mengalihkan mereka dari gatget. Kok gatget? Saya akui mayoritas anak-anak sekarang sudah tidak bisa dipisahkan dari gatget bila tidak ada aturan yang jelas dari orang tuanya. Dan saya adalah orang yang sedih bila anak-anak berkumpul dengan saudara/temannya tetapi tidak bermain bersama melainkan sibuk sendiri dengan gatget mereka. Karena itu, saya selalu mencari ide agar bisa

03 Juni 2016

Dialog Iman


Assalamualaikum..


Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sharing tentang dialog iman di grup whatsap.