Tampilkan postingan dengan label belajar jadi ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar jadi ibu. Tampilkan semua postingan

22 Juni 2021

Sungguh Anak adalah Cermin Orang Tuanya

 


Semakin ke sini saya semakin menyadari, bahwa kalau mau melihat diri ini sedang seperti apa

18 Februari 2021

Review Buku Enlightening Parenting 6 Tahun Pertama Periode Penting

Sumber : Instagram @okinafitriani


Bismillah...

Senang sekali akhirnya buku yang ditunggu-tunggu sudah mendarat dirumah saya dan sudah selesai kirim-kirim juga untuk para ibu di berbagai kota yang ikut memesan batch pertama.

10 Februari 2021

4 Tips Fokus Saat Work from Home


Bismillah...

Banyak sekali ibu-ibu yang Work from Home (WfH) namun kenyataannya ... ya begitulah :D

29 Februari 2020

Mengelola Distraksi

Tulisan ini merupakan resume dari kulwap pekanan dalam kelas Jurnal HS 2020 yang diadakan oleh Rumah Imspirasi. Saya ikat diblog karena saya tahu sifat pesan whatssap itu lebih sulit dipelajari ulang bila sudah tertumpuk chat yang lain.

Jadi, sambil sharing juga, saya pindahkan kesini.

Materi dari Bu Lala Rumah Inspirasi

"Kulwap Journaling: "MENGELOLA DISTRAKSI"

Selamat malam teman-teman,

Bagaimana proses menjurnalnya? Semoga masih terus semangat.

Tidak terasa kita sudah memasuki minggu terakhir bulan Februari. Dua bulan berlalu dengan cepat, apalagi kalau tidak dicatat. Tapi kalau dicatat pasti mulai terasa nikmat karena buku jurnal mulai terisi dengan “harta berharga” yaitu cerita, rasa syukur & aneka rencana yana semoga berhasil dilaksanakan dalam beberapa minggu terakhir ini.

Kita beruntung hidup di era kemudahan informasi seperti ini. Internet telah membuat kita terhubung, kita bisa belajar bersama & saling menguatkan dalam proses membuat jurnal ini.

Tapi internet & teknologi juga merupakan sumber distraksi yang besar bagi kita yang mungkin membuat kita sulit fokus menyelesaikan hal-hal yang seharusnya kita selesaikan.

Seperti journaling

Kadang kita merasa tidak punya waktu untuk menulis jurnal, tapi ternyata kita punya cukup banyak waktu untuk stalking Instagram atau membaca berita melalui telpon genggam kita.

Konon, para pekerja di Amerika terdistraksi setiap 11 menit dan membutuhkan waktu 25 menit untuk bisa mengembalikan fokus yang tergeser tadi (https://www.ics.uci.edu/~gmark/chi08-mark.pdf).

Semakin kompleks pekerjaan yang perlu dilakukan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa kembali fokus.

JENIS DISTRAKSI

Ada 2 jenis distraksi: dari dalam dan dari luar. Kita sering menyalahkan distraksi dari luar, tapi sesungguhnya gangguan terbanyak dilakukan oleh diri kita sendiri, yang seringkali tidak kita sadari.

Distraksi dari dalam

Distraksi ini terjadi di dalam kepala kita. Bentuknya seperti mental block yang menahan kita untuk tetap fokus alias ketidakmampuan kita untuk memilih.

Ketika pilihan itu melimpah di hadapan kita, kita justru sulit untuk menentukan mana yang harus kita lakukan. Mau cuci piring dulu, beres-beres rumah, mendengarkan podcast atau mencari materi untuk anak?

Mengapa di pesawat terbang lebih mudah untuk menyelesaikan membaca buku atau menonton film? Karena pilihan kita terbatas. Secara fisik pun kita terbatas kondisinya.

Otak kita cenderung memprioritaskan pilihan kita berdasarkan pada kebutuhan yang di depan mata dibandingkan kebutuhan yang seharusnya dilakukan.

Distraksi luar

Distraksit luar itu contohnya pesan Whatsapp atau tamu yang mendadak datang ke rumah. Distraksi luar ini seringkali kita anggap sebagai sumber utama masalah, tapi distraksi dari luar ini pun sebenarnya tetap bisa kita minimalkan.

Kita semua tak lepas dari distraksi. Saya sendiri ketika menuliskan materi ini terdistraksi beberapa kali. Hehehe..

Untuk itu, malam ini saya berbagi 3 latihan untuk membantu Anda menaklukkan aneka gangguan tersebut.

Langkah 1: Kurangi pilihan Anda

Sebagaimana yang disampaikan sebelumnya, distraksi internal terjadi karena kita punya banyak pilihan. Maka cara pertama adalah mengurangi pilihan yang ada.

Misal, pada saat kita ingin menulis jurnal maka jauhkan telpon genggam, matikan TV bahkan kotak cemilan yang mungkin ada di sekitar meja.

Aturan 20 Detik

Seorang psikolog -Shawn Achor- percaya bahwa 20 detik memberikan banyak perbedaan dalam perubahan kebiasaan. Misal, jika Anda menjauhkan HP dalam jangkauan 20 detik, maka kemungkinan Anda mengeceknya akan semakin sedikit.

Atau matikan notifikasi di HP sehingga Anda butuh waktu lebih lama untuk mengecek pesan yang sampai. Keluar (log out) dari akun sosial media Anda sehingga Anda perlu waktu untuk masuk (login) dulu sebelum bisa mengecek media sosial. Karena sesungguhnya notifikasi tidak selamanya merupakan hal yang penting. Media sosial tidak membantu kita menyelesaikan pekerjaan yang saat ini harus kita lakukan.

Latihan langkah 1

Identifikasikan pilihan yang Anda punya di sekitar Anda, dan pikirkan bagaimana Anda menghilangkannya ketika Anda membutuhkan waktu untuk fokus.

GAMBAR

Langkah 2: Memasang Waktu Berhenti

Di dunia penuh distraksi ini, informasi datang tiada henti. Selesai nonton satu video Youtube, kita langsung disajikan video lainnya dan seterusnya. Untuk itu kita perlu bisa memasang tanda berhenti bagi kita sendiri.

Caranya bisa dengan dua hal:

a Berdasarkan waktu

Misal saat kita mau membuka Instagram, kita memasang weker 15 menit di HP atau komputer untuk memastikan tidak akan terlewat waktunya.

Dulu saya ke mana2 pakai timer dapur murah meriah untuk mengatur waktu, karena kalau pakai HP lebih mudah terdistraksi. Tapi sekarang saya pakai jam yang ada timernya jadi lebih mudah lagi prosesnya.

b. Berdasarkan kemajuan

Misal saat kita menonton video di Youtube, kita membatasi diri untuk hanya menonton 2 video saja.

Latihan langkah 2

Tuliskan distraksi yang biasa terjadi dan apa yang menjadi tanda berhenti bagi distraksi tersebut.

GAMBAR

Langkah 3: Atur Suasana Fokus

Sebagai manusia, kita terdistraksi oleh indra kita:

~ Suara: orang ngobrol, suara binatang, abang bakso lewat, musik, anak merengek dll

~ Sentuh: tempat duduk yang kurang myaman, baju yang terlalu ketat, meja kerja yang kotor

~ Pandangan:  layar, suasana ruang tempat fokus, pemandangan yang terlihat oleh Anda

~ Bau: bau kopi, orang tiba-tiba kentut atau. bau masakan tetangga

~ Rasa: sisa rasa di mulut, apa yang sedang kita makan atau kunyah

Jika Anda ingin fokus, pilihlah tempat di mana indra Anda tidak mengganggu perhatian. Kemudian tuliskan tempat yang kira-kira aman bagi indra Anda. Misal: di kamar saat malam hari setelah anak-anak tertidur, atau di beranda rumah ketika hari masih pagi dan seisi rumah terlelap.

Sebagai ibu, kadang banyak hal tidak ideal.

Untuk itu kita perlu menambahkan elemen kesabaran dan kelenturan serta kemampuan untuk berdamai dengan ketidak sempurnaan.

Saya sendiri berusaha untuk bangun jauh lebih pagi sebelum orang di rumah bangun untuk menjurnal. Karena itu waktu yang paling cocok buat saya.

Waktu malam buat saya masih sering banyak distraksi. Keluarga kami selalu melakukan keruntelan di malam hari dan kalau sedang seru kadang sampai terkantuk-kantuk sehingga sudah tidak sempat menjurnal.

Waktu anak-anak kecil, mereka setiap malam minta dibacakan buku cerita dan saya sering ketiduran di kamar mereka sehingga sulit untuk menjurnal kala malam.

Sebagai ibu, saya harus bersedia berjalan extra mile untuk mencapai apa yang saya inginkan. Dan saya rasa teman-teman pun perlu melakukan hal ini (baca: menghalau distraksi) kalau memang mau berhasil menjurnal.

Awalnya mungkin sulit, tapi begitu kita mendapatkan buah dari proses menjurnal ini, aneka distraksi itu tidak lagi menjadi halangan, dan kita akan lebih cepat mampu kembali fokus.

Karena buah fokus jauh lebih manis daripada buah distraksi.

Semangat terus ya teman-teman!

24 Februari 2020

Menghentikan Anak Tantrum dalam Hitungan Menit


Judul postingannya agak lebay ya, tapi cerita yang akan saya tulis ini beneran works deh buat anak kedua saya yang tantrum -usianya sebentar lagi 3 tahun-. Tapi, tantrumnya berada di level menangis

13 Februari 2020

[Review Buku] Tuntas Motorik & Tuntas Kemandirian


Bismillah...

Kali ini saya mau mereview sedikit tentang duo buku yang sangat bermanfaat bagi saya. Dari segi

10 Februari 2020

Berkenalan dengan Metode Pendidikan Waldorf

Photo Credit: Nanda
Bismillah...
Alhamdulillah akhir bulan lalu saya mendapat kesempatan belajar dengan Waldorf Jakarta Study

23 Januari 2020

"Aku nggak mukul, cuma nyolok mata!"


18 Januari 2020

Kemarin di mobil, papah nyetir, tetiba mbak nangis di kursi belakang. Langsung papah dinasihatin: Adek,

04 Januari 2020

Lima Bulan Ke Depan, Mau Belajar Apa?

Bismillah...

Setelah satu pekan libur, kuliah buncek kembali aktif. Kali ini, materi dan tugasnya adalah

27 September 2019

Parental Coaching Dalam Membersamai Ananda



Bismillahirrokhmanirrokhim...

Alhamdulillah sinar mentari pagi di rooftop mendukung saya untuk menulis tentang "parental coaching" yakni semacam teknik untuk membimbing anak agar melihat masalah lebih jernih

12 September 2019

Aplikasi Penunjang Belajar Bahasa Inggris


Bismillah, hari ini saya mau sharing aplikasi yang menunjang saya belajar bahasa Inggris. Ya Alloh udah ibu-ibu masih belajar bahasa Inggris? Kenyataannya, kalau pernah belajar bahasa Inggris di bangku sekolah bila tak diasah maka akan hilang bagai ditelan bumi kecuali sedikit saja yang tersisa 😊

11 September 2019

Bagaimana Menjalani Pengasuhan Tanpa Suara Melengking



Bismillah, semua kita pasti mengakui bahwa anak adalah anugrah. Tapi kenapa kita masih sering mudah bersuara melengking pada anak? Bukankah mereka adalah tamu istimewa yang telah kita undang kehadirannya, dengan persetujuan Sang Maha Kuasa?

10 September 2019

Belajar Online di Kelasin.com



Saya baru tahu tentang kelasin ini dari postingan mak Karin di setoran tugas level 12 day 5 kemarin. Saya langsung cari di playstore kelasin, kok nggak ketemu? Ternyata kelasin itu berbasis web.

12 April 2019

Maret, Bulan Spesial



Seharusnya postingan ini ditulis bulan lalu, tapi karena banyak sekali kendala (tsahhhh) akhirnya baru hari ini saya menulis di blog lagi. Sedih!

Maret...
Bulan ketiga, yang bagi saya sangat spesial. Kenapa? Karena di bulan ini anak-anak saya lahir. Masya Alloh alhamdulillah senang sekali mereka lahirnya selisih empat tahun satu minggu. Ngaruh emang? Hehehe... nggak juga sih sebetulnya. Toh kami bukan kelurga yang memeriahkan ulang tahun. Tapi, bulan Maret jadi spesial karena setiap bulan ini, artinya usia kami -saya dan suami- menjadi orang tua bertambah satu tahun.

09 Desember 2018

Mengenali Gaya Belajar Anak


pict random from google








Pernah ketika saya berbincang lewat media whatsap, seorang teman bercerita bahwa anaknya nggak

05 Desember 2018

Kurikulum dan Rekomendasi Buku Metode Montessori


Pertanyaan yang kemudian muncul setelah belajar tentang filosofi Montessori adalah "Bagaimana kurikulum metode Montessori?" 

Apakah kegiatan anak saya ini termasuk Montessori?

Bagaimana memulainya?

28 November 2018

[Review] Jatuh Hati pada Montessori

reviuw buku jatuh hati pada montessori

Buku berjudul "Jatuh Hati Pada Montessori" membuat saya benar-benar jatuh hati pada metode ini. Banyak sekali rasa syukur dan takjub saat membaca halaman demi halaman buku ini karena saya

17 Oktober 2018

11 Cara Sukses Berkomunikasi dengan Anak


Bismillah, awal bulan September lalu kuliah bunda sayang sudah dimulai. Materi pertama yang saya dapatkan adalah materi komunikasi produktif. Karena saya merasakan manfaat luar biasa setelah menerapkan pola komunikasi produktif ini, saya merasa saya harus berbagi dengan ibu-ibu semua.

20 September 2018

"Tadi Ngapain Aja di Sekolah?"


Kalimat ini mungkin banyak sekali digunakan oleh orang tua ketika anaknya pulang dari sekolah, termasuk saya -kadang-kadang-. Harapan besar orang tua agar anak dengan senang hati bercerita kegiatannya selama di sekolah.

Apakah harapan itu terwujud? Ternyata nggak selalu. 

Anak pulang sekolah biasanya dalam kondisi lelah. Sedangkan orang tua dalam kondisi penasaran ingin mendengar cerita dari si anak. Di sinilah kadang terjadi perbedaan kebutuhan.

Menurut saya, orang tua seharusnya lebih kreatif dalam menciptakan suasana yang kondusif agar anak merasa nyaman saat bercerita. Kita saja, orang dewasa, kalau sedang lelah, rasanya malas sekali untuk bercerita panjang lebar tentang kejadian yang dialami dari pagi hingga sore selama di tempat kerja. Apalagi anak-anak?

Lalu bagaimana caranya agar anak dapat dengan mudah bercerita kepada kita?

Izinkan saya berbagi cerita tentang saya dan Rizma, anak sulung saya.