08 Agustus 2012

Cinta Sejati Yang Terlupakan

copast dari om felix

01. #cinta memang kata menarik, tak habis dibedah kata, tak lekang dimakan masa – tak dapat dijangkau mata walau adanya nyata

02. namun dangkal kiranya bila #cinta hanya dianggap urusan fisik, sempit rasanya bila #cinta dimaknai hanya pacaran

03. bila #cinta hanya menyatunya fisik, maka semua hewan pun mampu bercinta, bila #cinta hanya pegangan tangan, aduhai sempitnya #cinta


04. bukan #cinta apabila hanya pentingkan ego pribadi dengan manfaatkan lawan jenis untuk memenuhi syahwat kita

05. bukan #cinta apabila biarkan yang kita cintai melawan Dzat yang menciptakannya dan menciptakan kita, maksiat namanya

03 Agustus 2012

Kantorku Surgaku (2)

Q. S Al Hajj : 46 yang artinya: "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesunggguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada"

Hati berfungsi untuk memahami cinta Alloh.

Sulit adalah ketika kita jauh dari Alloh, dan akan menjadi mudah ketika kita dekat dengan-Nya.
Di dalam hati, ada sobekan yang tak bisa dijait kecuali dengan Cinta Alloh.
Di dalam hati, ada tangisan yang tak bisa berhenti kecuali dengan menangis kepada Alloh.
Gantungkanlah diri kepada Alloh.
Gembiralah dengan Alloh.

Bahagialah karena menjadi kekasih-Nya.

Kayalah dengan cinta Alloh.
Kekayaan adalah kefakiran saat jauh dari Alloh.
Kefakiran adalah kekayaan saat dekat dengan Alloh

Hal yang paling manis adalah mengenal dan mencintai Alloh

Takutlah ketika kita tak dapat mensyukuri apa yang kita dapatkan, jangan takut ketika kita tak mendapat apa yang kita inginkan.

23 Juli 2012

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah...

Berkah Ramadhan?
Alhamdulillah. Hari pertama Ramadhan, istimewa! bersama suami, tarawih bareng ke masjig, sahur bareng, weekend pula, alhamdulillah bisa menghabiskan waktu dengannya. Walaupun hanya segelas teh manis hangat yang bisa kusiapkan untuknya. Alhamdulillah... Nikmat. Suami saya tak neko-neko orangnya, nyantai, karena nanti ada waktunya sendiri saya memasak untuknya (Ah... jadi ingin segera menghuni rumah kami)

Hari ini saya batalkan puasa saya karena suatu hal yang saya ragu apakah saya masih wajib puasa ataukah harus membatalkannya. Siang saya sangat galau, antara akan membatalkan atau melanjutkan puasa. Tanya sana sini dan mereka berbeda pendapat. Namun keyakinan saya mengatakan bahwa saya harus membatalkan puasa. Akhirnya sore hari saya membatalkan puasa, dengan tetap meminta petunjuk dariNya.

Malam harinya saya masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada saya. Saya ambil handphone dan mulai browsing. dan ketemulah saya dengan satu artikel kesehatan.
Dari situlah saya beranikan diri untuk mencari petunjuk Alloh.

19 Juli 2012

Ramadhan bulan kasih sayang

Kamis, 19 Juli 2012, @B Lt 11
By : Ust. Didin Afidudin

Sebelumnya, saya ucapkan Selamat berpuasa, semoga kita meraih manisnya bulan ini. Amin...
Mohon maaf lahir dan batin ya ^^

Hidup kita akan hebat jika kita dapat mengatasi masalah, bukan lari dari masalah. Karena lari dari masalah hanya akan mendatangkan masalah lain yang lebih berat.
Kemudahan dan kesulitan, kesuksesan dan tantangan adalah dua hal yang ada pada satu sisi, jadi raihlah kesuksesan dari tantangan, dari kesulitan, jangan cari kesuksesan dalam kemudahan. Inna ma’al ‘usri yusron. Inna ma’al ‘usri yusron 
Menyambut Ramadhan, siapkan mental, pengetahuan tentang puasa. Agar puasa kita maksimal, ada target, yakni menjadi pribadi Taqwa-utuh.
Ramadhan: shaidus shuhur= pemimpin .... (lupa, maaf )
Barang siapa yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan, maka akan diampuni dosanya, amin 
Makna berpuasa:
1.    Melatih ikhlas
Saat berpuasa kita lapar, tapi tetap bekerja, hal ini melatih kita untuk bekerja dengan ikhlas
2.       Melatih jujur
Ibadah yang hanya kita yang mengetahuinya adalah puasa. Hanya kita yang tau apakah kita benar-benar berpuasa atau hanya ketika dihadapan orang lain saja.
Jujur itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa kepada Jannah (Al hadits)
Tidurnya orang puasa itu ibadah, apalagi kerjanya? Maka jangan diartikan puasa itu tidur sepanjang hari, namun kita menilai bahwa jika tidurnya saja ibadah, apalagi bekerjanya orang puasa, maka pilihlah bekerja.
Saat puasa kita lapar, saat itulah otak kreatif. Jadi, bulan ramadhan bukanlah bulan lemes, tapi justru bulan energik. Puasa membangun etika kerja, bagaimana kerja yang benar, yang jujur.
Lafadz “labbaikallohumma labbaik labbaika la syarika laka labbaik” orang berhaji akan dijawab dengan baik oleh malaikat jika orang itu berangkat dalam keadaan hala. Malaikat mejawab: rizkimu juga baik, hajimu mabrur, iLkh...
Sedangkan jika orang itu berangkat dalam keadaan haram, maka malaikat juga akan menjawab: ... tiada kebaikan untukmu.
3.       Melatih sabar
Selama menanti waktu berbuka puasa, orang berpuasa dilatih untuk sabar, untuk menahan diri dari godaan makanan dan minuman yang ada.
4.       Mendapat kenikmatan
Orang berpuasa itu mendapat dua kenikmatan yakni kenikmatan saat berbuka puasa dan kenikmatan saat bertemu dengan Alloh. Insya Alloh, Allohumma amiiin... 
5.       Mengendalikan diri dari perbuatan tercela
Orang berpuasa melatih dirinya untuk menahan diri dari amarah, dan dari perbuatan tercela.
Jika ada orang marah kepada kita, katakanlah: Aku berpuasa, aku berpuasa, aku berpuasa.
Namun jangan dilampiaskan setelah berbuka kemarahannya, itu tidak dibenarkan.
6.       Ramadhan bulan kasih sayang
Dengan adanya bulan ramadhan, kita menjadi tahu apa yang dirasakan orang-orang fakir miskin yang makan saja mereka sulit. Kita dilatih untuk bisa berbagi, untuk bisa saling menyayangi sesama.
Ramadhan itu syahru infaq = bulan infaq

Q. S Ar Rum : 39
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Alloh. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Alloh, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).”

Jadi, harta orang yang berinfaq itu tidak akan habis, malah justru akan semakin banyak, meski secara nominal berkurang, tapi di sisi Alloh lebih banyak.
Bahkan negara/ keluarga akan kuat jika banyak berinfaq. Contohnya adalah Turki, negara yang tadinya sangat sekuler.

Suatu ummat kuat atau tidak, dapat dilhat dari sholat shubuh berjamaahnya.
Karena dari sholat shubuhlah akan datang berbagai macam kekuatan.
Sholat shubuh = ½ nya sholat jumat, lumayan. Semoga Indonesia begitu ya? Amin... 

ZAKAT
Zakat profesi besarnya 2,5 % dari penghasilan bruto.
Jika ada hutang, dan hutang itu untuk kebutuhan pokok, maka boleh dikurangkan dahulu sebelum dihitung zakatnya.
Jika dari penghasilan masih bisa menabung, dan dalam setahun tabungan itu jumlahnya sama dengan 85 gram emas, maka wajib dizakati meskipun pada awalnya sudah zakat profesi.

17 Juli 2012

Ringkasan Pengajian "Kantorku Surgaku" (1)

Oleh: Ust. Nanang Mubarok

Sabda Rosululloh:
Jika kalian melewati taman2 surga, hendaklah singgah kedalamnya dan minumlah sebanyak-banyaknya.
Makna taman2 surga disini adalah Majelis iLmu, majelis ta'lim.
Maka jika ada suatu majelis ilmu, masuklah, dan tibalah ilmu dari sana sebanyak-banyaknya.

Tiga pertanyaan mendasar untuk hidup kita:
1. Dari mana?
2. Mau kemana?
3. Untuk apa?

Pertanyaan 1 & 2 Jawabannya ada di Q.S Albaqarah : 156

الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون


" (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

Inna lillahi artinya sesungguhnya kami milik Alloh, yakni bahwa manusia itu berasal dari Alloh (menjawab pertanyaan 1)
Inna ilaihi raji'uuun artinya artinya sesungguhnya kepadaNya-lah kami kembali (menjawab pertanyaan 2)
Dari sini jelaslah bahwa tujuan hidup manusia hanyalah untuk Alloh.

Sedangkan pertanyaan 3 jawabannya ada di Q.S Al Mulk : 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Dari sini pertanyaan manusia hidup untuk apa adalah untuk diuji pleh Alloh, siapakah yang terbaik amalnya.

Dunia itu bagaikan panggung/ catwalk, kontes amal, akan dinilai siapa yang terbaik amalnya. Jurinya siapa? Alloh SWT. Nilainya untuk siapa? Manusia.
Q. S Al infithar 7-8 yang intinya semua amal baik dan buruk manusia sebesar dzarrah pun akan dicatat di buku amal manusia yang nanti akan dipertanggungjawabkan oleh manusia.
Jadi hidup didunia ini tak lain tujuannya untuk memperoleh 'skor' tinggi dimata Alloh SWT, semata karena Alloh, untuk Alloh. Jangan sampai panggung ini mendisorientasi kita, sehingga kita lupa tujuan hidup yang sebenarnya. Jadi, hati-hatilah... Karena dunia itu daarul fana, tak kekal, penuh canda tawa dan gurauan. Yang kekal adalah kehidupan akhirat.

Ubahlah semboyan kita dengan:
Hari gini tidak jujur? apa kata akhirat?
Hari gini korupsi? apa kata akhirat?
dan sebagainya :)


ingat bahwa tujuannya adalah akhirat, surga, Alloh...

16 Juli 2012

Subhanalloh...

Lama tak menulis.
Pagi tadi, hampir saja motorku tercium mobil.
Alhamdulillah Alloh masih melindungi saya.
Subhanalloh, Alhamdulillah, Allohuakbar.
Seketika saya berhenti sejenak seolah mempersilakan mobil itu melintasiku diagonal.
Oh Alloh...
Thanks so much
Walaupun setelahnya saya sontak berdegup kencang seperti habis lari mengitari lapangan.
Ohhh...
Puji syukur Alhamdulillah
Saya masih diberi kesempatan untuk mengabdi kepada negara suami, keluarga,
Subhanalloh...
Hampir2 tak ingin saya hentikan air mata...
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Alhamdulillah

02 Juli 2012

Akhir yang Baik, Subhanalloh...

Seorang da'i bercerita tentang laki-laki yang bermimpi di beri sebuah nomor rumah, agar menghubungi pemiliknya dan mengajaknya menunaikan ibadah Umrah bersamanya. Awalnya, mimpi itu dianggapnya sekedar bunga tidur. Tapi di hari berikutnya mimpi itu berulang. Maka ketika kali kedua ia bermimpi hal serupa, sang lelaki bertanya kepada imam masjid di dekat rumahnya soal makna mimpi tersebut. Si imam berkata, "Jika mimpi itu terulang lagi untuk ketiga kalinya, hapalkan nomornya dan lakukan pesan tersebut."
Benar saja, mimpinya terulang lagi. Setelah bangun, nomor tersebut ia ingat-ingat lalu segera menghubungi pemiliknya. Lewat telepon ia menyampaikan, "Saudaraku, aku bermimpi bahwa aku diminta untuk mengajakmu melakukan umrah dan aku harus menunaikan perintah ini."

Orang yang di telepon tertawa mendengar tawaran dari lelaki yang tak dikenalnya. "Umrah apa? Engkau harus tahu, bahwa sejak beberapa tahun ini aku tidak pernah malaksanakan shalat apapun." tegasnya dengan nada heran.

Tetapi lelaki itu bersikeras, "Aku harus membawamu umrah karena ini perintah. Aku tidak bisa menolaknya, dan engkau harus membantuku dalam hal ini." Karena terus didesak, akhirnya orang tersebut menyetujui dengan sebuah syarat, "Tapi engkau yang menanggung semua biaya perjalanan dan kebutuhan selama umrah, serta mengantarkanku kembali sampai di rumah."
Lelaki tersebut menyepakati syarat itu dan berjanji akan menjemputnya beberapa hari kemudian.
Hari yang ditentukan tiba dan mereka akhirnya bertemu. Rasa heran berkecamuk di kepala si lelaki karena ternyata orang yang hendak diajaknya umrah itu tidak tampak sama sekali rona keshalihan di wajahnya; rambutnya kusut, pakaiannya berdebu, bahkan terlihat seperti orang yang mabuk.

Dalam hati ia bertanya, "Kenapa aku diberi mimpi hingga tiga kali untuk mengajak umrah orang yang seperti ini?"

Selanjutnya, setelah sampai di miqat, ia meminta orang itu untuk mandi dan memakai pakaian ihram. Dari situ mereka kemudian menuju Makkah untuk melakukan umrah bersama-sama. Usai menunaikan semua rangkaian umrah, termasuk mencukur rambut, mereka pun sepakat untuk pulang. Namun sebelum meninggalkan Makkah orang tersebut meminta kepada si lelaki untuk menunggu sejenak, karena ia hendak menunaikan shalat dua rakaat terlebih dahulu. Alasannya, ia khawatir ini menjadi kesempatan terakhirnya menginjak tanah haram.

Orang itu pun shalat, tapi sujudnya lama sekali. Tak sabar menunggu, si lelaki menghampiri, tapi ternyata dia telah meninggal dalam sujudnya. Lelaki tersebut begitu sedih, bercampur iri, seperti juga orang-orang yang melihat kejadian itu sama-sama iri, karena orang itu telah menutup perjalanan hidupnya di tengah shalat, saat sedang sujud di Masjidil Haram; masjid yang suci, dan tanah yang suci.

Tiga hari setelah kepergian orang itu, si lelaki menelpon istrinya, menanyakan amal shalih apa yang telah dilakukan almarhum suaminya sehingga memperoleh husnul khatimah yang membuat iri setiap orang shalih. Sang istri menjawab, "Saudaraku, demi Allah! Sudah beberapa tahun ini suamiku tidak pernah puasa, juga tidak pernah shalat. Teman satu-satunya hanyalah botol minuman keras, di rumah atau di luar rumah. Aku tidak mengetahui ada kebaikan pada dirinya kecuali hanya satu; kami bertetangga dengan seorang janda miskin dengan beberapa orang anaknya. Suamiku setiap malam membelikan makan malam untuk kami di rumah dan membelikan pula untuk mereka yang selalu dia antar sendiri hingga ke depan pintu mereka. Dan perempuan janda itu selalu menyambut pemberian suamiku di depan pintu dengan sebuah do'a, "Semoga malaikat Allah memberimu akhir hidup yang terbaik."

Ternyata doa itu di dengar Allah. Dia yang berkehendak atas segala sesuatu, tidak menyia-nyiakan amal baik lelaki. Amal itulah yang memudahkannya bertemu dengan Penciptanya, dalam akhlak yang baik, diantarkan doa tetangganya. Setelah kebaikannya pada tetangga itu.


Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 274 Th. 13 Jumadil Akhir 1433, 3 Mei 2012

Kisah Nabi dan Calon Penghuni Surga

Mungkin kisah ini sudah sangat sering didengar, tapi tak apelah saya berbagi disini, pengingat yang datang dari inbox email saya.
Penghuni Surga? Siapa yang gak pengin? Saya juga pengin, hehe... Amin

Suatu ketika Nabi duduk di dalam masjid dan berbincang dengan sahabatnya. Tiba-tiba beliau bicara “Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk ke mari.”

Semua mata tertuju pada pintu masuk masjid dan pikiran para sahabat membayangkan seorang yang luar biasa. “Penghuni surga, penghuni surga” demikian gumam mereka.Beberapa saat kemudian masuklah seorang dengan air wudhu yang masih membasahi wajahnya dan dengan tangan menjinjing sepasang alas kaki. Apa yang membuat istimewa orang itu hingga mendapat jaminan masuk surga oleh nabi? Tak seorangpun berani bertanya walau sebenarnya para sahabat merindukan jawaban.

Keesokan harinya peristiwa itu terulang kembali. Ucapan Nabi dan ‘Si Penghuni Surga’ dengan keadaan yang sama semuanya terulang, bahkan pada hari ketiga pun terjadi hal yang demikian. Abdullah ibnu ‘Amr sudah tak tahan. Maka timbullah suatu ide dalam benaknya. Dia mendatangi si penghuni surga sambil berkata “Saudara, telah terjadi salah paham antara aku dan orangtuaku, bolehkah aku menumpang di rumah Anda selama tiga hari?”

“Tentu, tentu” jawab Penghuni Surga.

Rupanya Abdullah bermaksud melihat secara langsung amalan Penghuni Surga. Tiga hari tiga malam ia mengamati, bahkan memperhatikan dan mengintip Penghuni Surga, tetapi tidak ada yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus, tidak ada sholat malam, tidak pula puasa sunnah. Pada siang hari Penghuni Surga bekerja dengan tekun. Ia ke pasar sebagaimana semua orang melakukannya.Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan atau yang tak sempat kulihat, demikian pikir Abdullah. Kemudian Abdullah mendatangi Penghuni Surga, dan menceritakan padanya kalau Nabi pernah mengatakan bahwa ia adalah calon penghuni surga.

“Apakah yang Anda perbuat hingga Anda mendapat jaminan surga oleh Nabi?” tanya Abdullah tanpa sabar.

“Apa yang Anda lihat, itulah saya.” jawab Penghuni Surga.

Dengan tampang kecewa Abdullah ingin kembali ke rumahnya, namun tiba-tiba ia dipanggil oleh Penghuni Surga.

“Apa yang Anda lihat itulah yang saya kerjakan, ditambah sedikit lagi yaitu saya tidak pernah merasa iri hati ketika ada orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Tidak pernah pula saya melakukan perbuatan keji dalam setiap akfitas yang saya lakukan.”

15 Hafidz Qur'an Angkatan II SD Juara Cimahi

Membaca email ini rasanya malu sekali, saya yang sudah berumur ini kalah sama adik-adik ini.Berikut isi emailnya. 
CIMAHI. 15 siswa SD Juara Cimahi mengikuti uji publik dan dinyatakan lulus hapal Alquran juz 30. Acara ini dihadiri oleh Kepala SD Juara Cimahi, koordinator TTQ SD Juara Cimahi, Kepala SD Juara Bandung, Rumah Zakat (Muhammad Sobirin), Ketua DKM Al-Islam (Bambang), Sesepuh Al-Islam (Abah Suryaman), serta disaksikan oleh hampir seluruh orang tua siswa.

Kelima belas siswa itu adalah:
1. Muhammad Fadhil Hidayatullah (Kls 2)
2. Hazim Mujahid (Kls 4)
3. Kuni Hafidzah (Kls 4)
4. Ulfah Fauziyyah (Kls 4)
5. Hasna Aulia Arrohmah (kls 5)
6. Jafar S. Koli (Kls 6)
7. Baharudin Tela (Kls 6)
8. Syafiq Faruq Ahmadi (Kls 6)
9. Septian M. Ilham (Kls 6)
10. Ishmah Khoirunnisa (Kls 6)
11. Annisa Firdaus (Kls 6)
12. Yunita Nurohmah (Kls 6)
13. Nurhadia J. Djonu (Kls 6)
14. Nurlabibah Mutalali'ah (Kls 6)
15. Nisa Azkia Salsabila (Kls 6)

Dari 15 siswa itu, 5 diantaranya sudah separuh menyelesaikan juz 29. Bahkan hafidz termuda SD Juara Cimahi, Muhammad Fadhil Hidayatullah sudah siap-siap menutup tahun pelajaran ini dengan hapal Juz 29. Selain 15 orang yang diwisuda, ada beberapa siswa yang sudah hapal juz 30 namun belum dinyatakan lulus. Bahkan di kelompok Quran program TTQ, tidak kurang dari 10 siswa sudah siap-siap menyelesaikan juz 30 di akhir tahun ajaran ini. ***

Newsroom/Suhud Syamsul Hakim
Cimahi







Shubuh : Tonggak Kejayaan Islam

Oleh: Usman Al Farisi

Umat Islam kini terpuruk. Umat yang awalnya gagah, kini lemah lantaran dilemahkan. Diserang dari berbagai sisi. Baik pemikiran, ekonomi, budaya hingga politik. Hal ini terjadi karena mereka kehilangan kesejatiannya. Islam tinggal KTP, Al Qur’an hanya dijadikan koleksi. Meskipun kita tidak memungkiri, ada sebagian umat yang senantiasa bekerja agar Islam yang mulia kembali berjaya, seperti dahulu di awal kedatangannya.

Kejayaan umat terdahulu terjadi lantaran adanya pahlawan-pahlawan subuh yang senantiasa terjaga di sepanjang malamnya. Mereka hanya tidur sejenak untuk mengembalikan stamina dan kembali terbangun, untuk bercengkerama dengan kekasih sejatinya, Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Hasilnya, mereka menjadi generasi yang kuat secara fisik, cerdas secara emosional dan jernih secara nurani. Inilah generasi terbaik yang nyaris tidak banyak kita jumpai tandingannya di abad 21 ini.

Oleh karenanya, umat yang tertidur ini perlu segera dibangkitkan. Mereka harus dibangunkan untuk kembali menapaki jalan kejayaan itu. Harus ada upaya menyeluruh yang mesti dilakukan agar jati diri Islam yang sesungguhnya bisa kembali menemukan momentum kejayaannya. Salah satunya dengan menyadarkan umat tentang pentingnya shalat subuh berjamaah di awal waktu sebagai tonggak bangkitnya kekuatan umat Islam. Keberkahan subuh diawali dengan shalat sunnah sebelum subuh yang lazim disebut dengan shalat fajar. Hanya dua rakaat namun diganjar dengan dunia dan seisinya, bahkan lebih baik lagi. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah bersabda, “Dua rakaat fajar (shalat sunnah sebelum subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya” (HR Muslim).
Dari hadits ini kita bisa menyimpulkan, bahwa mereka yang menjalankan shalat sunnah sebelum subuh, telah diganjar kebaikan (pahala) oleh Allah senilai dunia dan seisinya, bahkan lebih baik lagi. Meskipun, bisa jadi para Pahlawan Subuh itu adalah golongan yang miskin secara materi, dalam pandangan manusia. Setelah dua rakaat barakah itu, Rasulullah menganjurkan kita untuk mengisi waktu antara adzan dan iqomah dengan memperbanyak istighfar. Istighfar adalah kekuatan yang dijanjikan berjuta kebaikan bagi siapa yang mengamalkannya. Dalam surah Nuh ayat 10-12, Allah berfirman, “Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka (kaumnya): ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,’ sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”

Ayat di atas adalah janji dari Sang Maha Suci, bahwa Istighfar tidak saja berbuah pengampunan atas dosa yang terlanjur kita lakukan, melainkan juga akan diberi ganjaran berupa kemelimpahan rejeki dalam bentuk hujan yang menyuburkan tanaman, keberkahan anak yang mengundang banyaknya rejeki dan aneka bentuk kemakmuran duniawi lainnya.

Subuh adalah limpahan pahala dari Sang Maha. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, “Barangsiapa melangkahkan kakinya dalam kegelapan untuk menunaikan sholat subuh dan isya’, maka Allah akan meneranginya kelak di alam akhirat.” Dalam riwayat lain disebutkan pula, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat isya’ berjamaah maka ia seperti melaksanakan shalat sunnah setengah malam. Sedangkan mereka yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah maka ia seperti melaksanakan shalat sunnah semalam suntuk” (HR Abu Daud dan At Tirmidzi).

Sedangkan Imam Muslim menegaskan dalam salah satu riwayatnya, “Tidak akan masuk neraka orang yang shalat sebelum terbit matahari (subuh) dan sebelum terbenam matahari (ashar).” Hadits ini selayaknya kita jadikan tiket yang akan senantiasa kita perbanyak jumlahnya, agar Allah benar-benar memasukkan kita ke dalam golongan Pahlawan Subuh yang akan diberi pahala surga. Subuh adalah pembeda antara mukmin dan munafik. Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Umat Islam tidak akan kembali berjaya selama jama’ah shalat subuh tidak sebanyak jama’ah shalat Jum’at. Maka, subuh adalah janji tentang bangkit dan tidaknya umat ini. Jika sekarang umat Islam terpuruk, sejatinya penyebabnya adalah karena umat Islam yang mulai meninggalkan shalat subuh berjama’ah di masjid atau mushola. Oleh karena itu, musuh Islam tidak henti-hentinya melancarkan serangan agar umat Islam selalu berada dalam subuh yang kesiangan. Karena mereka paham, benarnya subuh umat Islam adalah runtuhnya kejayaan (semu) mereka. Kitapun akhirnya disuguhi dengan berbagai macam tontonan yang membuat kita tidur larut malam dan bangun ketika matahari telah naik. Keberkahan subuh belum berakhir sampai di sini, ketika dua rokaat itu telah didirikan dengan sempurna. Melainkan berlanjut sampai waktu setelahnya. Dimana Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa shalat subuh dengan berjamaah kemudian duduk berdzikir hingga terbit matahari (dan meninggi), kemudian shalat dua rokaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah yang ditunaikan dengan sempurna… dengan sempurna… dengan sempurna!” (HR Tirmidzi)

Sejatinya, anugerah Allah begitu melimpah ruah. Bahkan, dari waktu subuh yang menyapa kita setiap hari terkandung di dalamnya berjuta pahala dan kebaikan. Hingga kita yang belum mampu melakukan ibadah haji dan umrah di tanah suci sekalipun, bisa dianugerahi pahala keduanya manakala kita mengoptimalkan waktu subuh dalam ketaatan. Memanfaatkan waktu tersebut untuk Ruku’, Sujud, Dzikir dan Tilawah Al Qur’an. Akhirnya, benarlah doa yang disampaikan oleh Rasulullah, “Ya Allah, berkahilah umatku di pagi harinya” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah). Karena mereka yang bangun subuh tentunya mempunyai lebih banyak waktu untuk sekedar belajar, menyiapkan sarapan, menyiapkan berkas-berkas kantor ataupun berolahraga agar fisik lebih sehat. Sedangkan mereka yang malas, memilih melanjutkan tidur dan baru terbangun ketika ayam telah kenyang dan mentari telah meninggi.