![]() |
credit image |
Mau sharing tentang kolik, penyakit yang beberapa waktu lalu
hinggap di tubuh Rizma.
Sabtu siang Rizma tetiba kesakitan perutnya, nangis kencang
sambil pegang-pegang perut. Saya langsung aja pijet lembut perutnya, nggak lama
kemudian diam. Mainan lagi, senyum dan ceria lagi seperti biasa. Nggak lama,
nangis lagi sambil pegang-pegang perut. Saya kembali pijit lembut perutnya. Sakit
pun kembali mereda. Kami lanjut bermain. Untuk ketiga kalinya, perut Rizma
sakit lagi dan kembali Rizma nangis kencang sambil pegang perut. Ya Alloh,
kenapa anakku?
Sedikit panik juga, soalnya kok terus berlanjut ya sakitnya?
Meski ada jeda, tapi ngga tega ngeliatnya. Soalnya saya pegang perutnya
kencang. Akhirnya sabtu sore kami membawa Rizma ke RS Premier Bintaro, dari
beberapa nama dokter yang disebutkan di telepon, entah kenapa kami memilih dr.
Rachmat Sentika. Googling lagi, dsa (dokter spesialis anak) sekitar Bintaro
dengan nama tersebut. Benar, sebelumnya pernah
baca di blog seorang ibu yang
memeriksakan anaknya di dr. Rachmat Sentika, testinya sih baik-baik. Makanya kami
lanjut untuk bertemu beliau dibanding dokter lain yang sedang praktik. Singkat cerita,
kami bertemu dr. Rachmat dan diagnosa beliau Rizma sembelit. Padahal kami sudah
memberi tahu bahwa pup terakhir tadi pagi, teksturnya seperti orang dewasa.
Rizma diresepi Lacto-B dan Polysilane serta kami diminta memijat perut rizma
dengan gerakan ILU (yang sudah kami lakukan selama ini) jika kambuh sakitnya.
Sampai dengan senin pagi, belum ada perubahan untuk sakit perut
yang Rizma alami, kami pun begadang bergantian menjaga Rizma saat sakit
perutnya kambuh. Padahal saya rutin meminumkan apa yang diresepkan dokter.
Hmm... ada apa ini? Kami pun akhirnya mencari second opinion. Aslinya sih mau
ketemu dr. Badriul Hegar yang kabarnya adalah dsa ahli pencernaan. Tapi karena
praktiknya malam (di klinik Zam-zam, Veteran, Bintaro), rencana ini pun gagal. Nggak
tega deh pokoknya ngeliat anak kesakitan berulang-ulang. Akhirnya kami bikin
appointment sama dr. Waldi karena praktiknya pagi. Kami mendapat giliran jam
10.15. sebelum kesana, saya teringat pernah membaca bahwa sakit yang Rizma
alami ini namanya kolik. Cuma saya hanya menebak aja dan usah lupa gimana cara
mengatasinya. Ternyata benar, diagnosa dr. Waldi sama dengan yang saya tebak.
Rizma terkena kolik. Saya menunjukkan obat yang diresepkan dr. Rachmat sabtu
itu, beliau menyampaikan bahwa polysilane itu obat maag, dan nggak ada anak
sekecil Rizma yang sakit maag, jadi ngga perlu dilanjutkan. Lagian, ngga ada
perubahan kan? Beliau sudah bisa menebak.
“Bu, kalau anak ibu minum obat dan nggak ada perubahan, ibu harusnya curiga bahwa obat itu ngga cocok untuk penyakit anak ibu. Nggak usah dilanjutkan, bu.”
Deg! Langsung deh perasaan campur aduk menghampiri saya. Antara kesel, sedih, dan nyesel kenapa nggak curiga dari kemarin? Kalau
Lacto-B nya sih boleh dilanjutkan, karena itu semacam yogurt versi mahal kata
beliau. Okeee... terus? Koliknya apa obatnya, dok? Beliau menjawab dengan
santai seperti biasanya, ah itu dikasih minyak kayu putih aja. Nanti sembuh
sendiri kok. Kami pun manggut-manggut dan yakin bahwa dokter satu ini
bener-bener RUM. Kata beliau ini perut sakit karena diare yang belum keluar. Dan
menebak bahwa besok rizma akan diare untuk kemudian sembuh koliknya. Oke, sip,
kami pulang.
Saat rizma kambuh lagi sakit dan tangisnya, kami pun
mengolesi minyak kayu putih seperti yang disarankan dokter. Tapi ngga ada perbaikan. Rizma terus berulang sakit perutnya. Dua hari berlalu dengan sama. Sedih rasanya.
Rabu siang, saat saya dari masjid di kantor, tetiba ponsel berdering, telepon dari suami saya mengabari kalau saya dan suami harus segera pulang karena sakit Rizma semakin parah. Langsung lemes seketika mau pingsan rasanya. Bener deh, saya takut sekali ada apa-apa dengan Rizma. Bercucuran air mata tapi saya tahan biar nggak kelihatan orang. Langsung menuju meja kerja, duduk, tenang, minum. Dan bersiap untuk pulang.
Rabu siang, saat saya dari masjid di kantor, tetiba ponsel berdering, telepon dari suami saya mengabari kalau saya dan suami harus segera pulang karena sakit Rizma semakin parah. Langsung lemes seketika mau pingsan rasanya. Bener deh, saya takut sekali ada apa-apa dengan Rizma. Bercucuran air mata tapi saya tahan biar nggak kelihatan orang. Langsung menuju meja kerja, duduk, tenang, minum. Dan bersiap untuk pulang.
Sampai rumah pun kami langsung membawa Rizma ke RS Premier
lagi. Sebelumnya kami udah daftar untuk dr. Siti rozanah, yang konon ini salah
satu dokter recommended di RS Premier Bintaro. Setelah mendengar penjelasan
kronologis dari saya, beliau memeriksa Rizma dan mendiagnosa Rizma terkena
kolik. Yes, untuk kali kedua diagnosa saya sama dengan dua dokter anak yang
bagus. Terus beliau kasih obat kolik bernama “Piptal” dan antibiotik (yang AB
nggak saya minumkan dulu sebelum hasil lab keluar, maaf ya, Bu dokter Siti). Ya
Alloh, dari tiga dokter Cuma beliau yang ngasih obat ini. Iya, beda dokter beda
obatnya. Kami berharap ada perubahan pada Rizma. Beliau juga merujuk Rizma
untuk segera tes darah dan tes urine untuk tahu penyebab kolik dan juga karena
sudah hari keempat (sabtu siang ke rabu siang) ada demam (Rizma demam juga, cuma
demamnya hanya sewaktu-waktu, nggak sepanjang hari).
Drama lagi deh pemeriksaan darah. Paling nggak tega ngeliat
anak nangis kesakitan gara-gara disuntik. Cuma bisa ngintip sambil berdoa
semoga berhasil diambil darahnya sekali suntik aja. Alhamdulillah sekali suntik
berhasil. Yang lucu, pas tes urine, pas mau pasang urine collector, Rizma malah
nggak mau dan teriak “pipis, pipis”. Langsung deh saya bawa ke toilet untuk
pipis. Ealah begitu jongkok, saya mau nampung pipisnya pakai tabung penampung,
lah kok Rizmanya mundur-mundur nggak mau. Saya pikir dia risih ada sesuatu yang
biasanya ngga dia temuai pas pipis di rumah. Hmmh, menghela nafas, Rizma pun
pipis di lantai toilet. Akhirnya kami pulang membawa Rizma yang sudah dipasangi
urine collector. Berharap ngga lama dia pipis dan terkumpul di sana dengan
sempurna (nggak ada yang tumpah maksudnya).
Alhamdulillah, Rizma di rumah berhasil pipis dan terkumpul
sempurna di urine collector. Langsung deh diamankan untuk dibawa ke rumah
sakit.
Gimana kabar selanjutnya? Sejak minum piptal, alhamdulillah
ada perubahan signifikan. Rabu malam begadang berkurang. Meski masih kadang
kesakitan, alhamdulillah berkurang frekuensinya. Paginya, hasil lab keluar,
hasilnya? Mungkin kalau Rizma dibawa saat ambil hasil lab, sudah langsung
dirawat. Rizma dinyatakan terkena infeksi bakteri. Masya Alloh... langsung deh
AB nya segera diminum Rizma. Sedih rasanya, dan selalu ada perasaan merasa
bersalah, kenapa kok kena bakteri? Ah, tapi nggak ada gunanya bertanya. Saya hanya
berusaha memperbaiki cara Rizma menjaga kebersihan baik dari makanan, minuman,
mainan, dll.
Semakin hari Rizma makin membaik. Alhamdulillah. Senin kemarin,
AB pun habis dan selasa pagi cek darah lagi untuk tahu perkembangan infeksinya.
Siangnya, hasil lab sudah diterima, alhamdulillah hasilnya baik. Rizmaaa, kamu
sehat! Alhamdulillah... senyum sudah merekah di wajahnya dan keceriaan pun
mengawali hari-harinya. Alhamdulillah terimakasih ya Alloh. Kami sangat bahagia,
kesehatan sikecil sangat berharga. Rasanya kapok untuk ke rumah sakit lagi. Mudah-mudahan
kami sekeluarga diberi kesehatan dan bisa menjaga kesehatan.
Amiiiin.... Ya
Robbal Alamiiin...
Tentang Kolik.
Kolik sendiri umumnya terjadi pada bayi dibawah usia 6 bulan. Ditandai dengan tangisan yang terus menerus, kaki menendang ke arah perut. Nah ini Rizma udah 19 bulan lebih. Makanya agak berbeda dengan kolik pada umumnya, dan untuk tahu penyebabnya, dilakukan pemeriksaan darah dan urine. Obat untuk kolik sendiri, ternyata ada, seperti yang saya sebutkan di atas. Tapi untuk bayi, biasanya diatasi dengan pelukan ibu, ayunan, atau mengalihkan perhatian ke sesuatu yang menarik saat bayi menangis.
Allhamdulillah Risma sudah sembuh ya sekarang , mudah-mudahan sehat selalu ya. Salam kenal juga mbak, terima kasih sudah mampir ke blog saya
BalasHapusAlhamdulillah... makasih mamanya pascal n alvin sdh mampir :)
Hapus